Kudus, Jawa Tengah — Dalam upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan yang berbasis potensi lokal, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB-UNS) meluncurkan kegiatan bertajuk “Pengembangan Teknologi Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi untuk Mendukung Ekowisata di Kawasan Gunung Muria”. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, salah satu daerah potensial penghasil kopi di lereng Gunung Muria.

Sosialisasi Pengembangan Teknologi Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi untuk Mendukung Ekowisata di Kawasan Gunung Muria
Desa Ternadi memiliki potensi alam yang indah dan budaya pertanian kopi yang kuat. Melalui sinergi antara pertanian dan pariwisata, kawasan ini dapat dirancang untuk menjadi eduwisata kopi Muria, di mana wisatawan bisa belajar langsung proses budidaya, panen, pengolahan, hingga menyeduh kopi khas Muria.
Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian UNS sekaligus Ketua Tim Pelaksana Program PDB-UNS. Beliu didampingi oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Ir. Muji Rahayu, S.P., M.P. (Ketua Program Studi Agroteknologi), Dr. Iswahyudi, S.P., M.P., Gani Cahyo Handoyo, S.P., M.Si., dan Andriyana Setyawati, S.P., M.P., Ph.D., serta bersama mahasiswa program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS.Mahasiswa UNS dapat terlibat aktif dalam kegiatan ini tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka melakukan pendampingan, survei lahan, serta menjadi fasilitator dalam pelatihan teknologi. Selain itu para mahasiswa mendampingi petani dalam berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi teknologi, pelatihan penggunaan Paklobutrazol, dan pengamatan di lapangan. Pendekatan partisipatif ini diharapkan menjadi pengalaman langsung dalam penerapan ilmu agroteknologi secara nyata di lapangan
Sosialisasi dan Transfer Teknologi di Lapangan
Kegiatan ini diawali dengan Sosialisasi Pengembangan Teknologi Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Juli 2025, di rumah Direktur BumdesLohjinawi Desa Ternadi, yang dihadiri oleh masyarakat petani kopi. Dalam sambutannya, Prof. Samanhudi menyampaikan pentingnya sinergi antara inovasi teknologi pertanian dan potensi ekowisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. “Melalui kegiatan ini, kami hadir bukan hanya sebagai akademisi, tetapi sebagai mitra masyarakat dalam mendorong produktivitas kopi sekaligus mengembangkan Desa Ternadi sebagai destinasi ekowisata edukatif,” ujarnya.

Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.menyampaikan sambutan pentingnya sinergi antara inovasi teknologi pertanian dan potensi ekowisata.
Kawasan Gunung Muria, yang memiliki lanskap hijau dan udara sejuk, sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis pertanian kopi. Kegiatan ini juga menjadi pintu masuk dalam pengembangan coffee tourism, di mana pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar proses budidaya kopi, pengolahan pascapanen, hingga mencicipi kopi hasil petani ocal.Sinergi antara sektor pertanian dan pariwisata ini adalah salah satu strategi ocalakatocala berbasis potensi ocal. Kopi Muria akan menjadi daya ocal baru. Wisatawan dapat menikmati keindahan alam pegunungan sambil belajar dan merasakan pengalaman petani kopi secara langsung.
Sambutan juga disampaikan oleh Bapak Sucipto, selaku Direktur Bumdes Lohjinawi dan sekaligus sebagai Tokoh masyarakat Desa Ternadi. Beliau menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan yang diberikan UNS. “Kami sangat terbuka terhadap teknologi baru dan berharap program ini bisa meningkatkan hasil panen kopi sekaligus membuka peluang wisata berbasis alam,” katanya.Selain peningkatan produktivitas, program ini dirancang untuk mendukung pengembangan ekowisata berbasis pertanian kopi. Para wisatawan nantinya dapat mengikuti coffee trail, melihat langsung proses budidaya hingga pengolahan kopi, bahkan ikut mencicipi kopi segar hasil panen petani ocal.
Pemaparan Materi dan Praktik Lapangan

Dr. Ir. Muji Rahayu, S.P., M.P., yang memaparkan secara rinci teknologi yang akan diterapkan.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Dr. Ir. Muji Rahayu, S.P., M.P., yang memaparkan secara rinci teknologi yang akan diterapkan, yaitu aplikasi Paklobutrazol sebagai zat pengatur tumbuh untuk meningkatkan pembungaan dan pembuahan tanaman kopi. Materi yang disampaikan mencakup dasar ilmiah penggunaan Paklobutrazol, cara aplikasinya di lapangan, serta potensi hasil yang dapat dicapai.Pendekatan teknologi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga mempertahankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Program ini juga memberi dampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Pendapatan petani diharapkan meningkat dengan implementasi teknologi ini. Kegiatan iniditujukan agar kopi Gunung Muria tidak hanya dikenal dari rasa dan aroma khasnya, tetapi juga sebagai simbol sinergi antara pertanian, teknologi, dan pelestarian alam.Dengan dukungan akademisi danperan Masyarakat, diharapkan Gunung Muria ke depan dapat menjadi sentra kopi berkualitas tinggi sekaligus destinasi wisata edukatif yang menggabungkan keindahan alam, kekayaan budaya, dan inovasi teknologi dalam satu paket menarik.
Usai sesi diskusi dan tanya jawab, peserta diarahkan menuju lokasi praktik lapangan di kebun kopi lereng Gunung Muria. Di sana, tim dosen dan mahasiswa memandu langsung proses pengaplikasian Paklobutrazol pada tanaman kopi. Para petani terlihat antusias mengikuti kegiatan ini, karena mereka langsung mempraktikkan metode baru yang berpotensi meningkatkan produksi tanaman secara signifikan.
Teknologi Paklobutrazol dan Ekowisata Kopi

Aplikasi zat pengatur tumbuh Paklobutrazol pada tanaman kopi.
Fokus utama dalam kegiatan ini adalah penerapan teknologi aplikasi zat pengatur tumbuh Paklobutrazol pada tanaman kopi. Paklobutrazol dikenal sebagai senyawa yang mampu merangsang pembungaan dan pembuahan tanaman secara lebih optimal, serta mengatur pertumbuhan vegetatif agar lebih efisien. Paklobutrazol dapat menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman dan merangsang pembentukan bunga secara lebih seragam. Dengan pengaplikasian yang tepat, tanaman kopi dapat menghasilkan buah lebih banyak dan berkualitas tinggi. Hal ini sangat penting untuk mendukung kegiatan ekowisata kopi, di mana hasil panen tidak hanya untuk konsumsi lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati kopi langsung dari kebun.Menurut Dr. Iswahyudi, pemanfaatan teknologi ini juga menjadi langkah awal untuk menjadikan kopi Muria sebagai identitas lokal dengan nilai tambah tinggi. “Kami ingin membantu masyarakat agar hasil kebunnya tidak hanya dinikmati, tetapi juga menjadi cerita dan pengalaman wisata bagi pengunjung,” ujarnya.
Gani Cahyo Handoyo, S.P., M.Si.,dosen yang berkonsentrasi dibidang AI, menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini merupakan bagian dari upaya transformasi pendidikan tinggi yang berorientasi pada pengabdian dan solusi nyata. “Kami menanamkan pada mahasiswa pentingnya inovasi terutama AI menuju pertanian presisi, kedepan dapat mengimplementasikan AI yang bermanfaat langsung bagi Masyarakat untuk mendukung program ini, bukan hanya di laboratorium semata,” tuturnya.
Penutup dan Harapan ke Depan Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang pengembangan Desa Ternadi sebagai Desa Binaan UNS, melalui kegiatan berjudulPengembangan Teknologi Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi untuk Mendukung Ekowisata di Kawasan Gunung Muria,yang dibiayai dengan Dana Non APBN UNS Tahun Anggaran 2025, dengan nomor kontrak 370/UN27.22/PT.01.03/2025. Diharapkan dengan keberlanjutan program ini, masyarakat dapat mengadopsi teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus menjadikan kopi sebagai ikon ekowisata yang memperkuat daya tarik kawasan Gunung Muria.Prof. Samanhudi menegaskan bahwa UNS berkomitmen mendampingi masyarakat hingga program ini benar-benar memberikan manfaat nyata. “Kami ingin Desa Ternadi menjadi model desa pertanian maju dan mandiri yang terintegrasi dengan pariwisata. Dan kami percaya, itu bisa diwujudkan bersama-sama,” tutupnya.